Aku pernah membaca diari lama arwah ayah. Menurut tulisannya, ayah pernah bertemu Lailatul Qadar.
Ramadhan ialah bulan untuk kita mengubah diri menjadi lebih baik; lebih taat dan takut kepada Allah, lebih 'abid, lebih tawadhu', lebih bersyukur, lebih zuhud. Adakah aku telah berubah menjadi lebih baik seperti itu?
Sewaktu melayan kerinduanku terhadap arwah ayah, aku sebenarnya turut cemburu dengan kerajinan ayah beribadat. Setiap malam Ramadhan pasti diisinya dengan solat dan zikir hatta sewaktu sakitnya sudah semakin menggigit. Aku masih muda dan sihat, tapi aku tidak sekuat ayah yang sudah tua dan sakit untuk bangun malam, ke bilik air mengambil wudhu', sembahyang dengan banyak dan duduk lama-lama berzikir tanpa dihambat kantuk. Sewaktu aku tinggal bersama ayah dan makcik di kampung dulu, aku dapat merasai suasana malam-malam Ramadhan yang hidup dengan bacaan ayat-ayat suci Al-Quran dan alunan zikir. Malam-malam Ramadhan kami dihidupkan oleh ayah. Dengan bacaan dari suaranya yang merdu. Ya, suaranya masih kuat terngiang-ngiang di telingaku, aku masih ingat itu. Sedangkan aku, hanya duduk diam di atas tempat tidur, bercita-cita tinggi untuk bangun, tapi tidak bangun-bangun.
Ramadhan kali ini aku kehilangan contoh untuk ditiru, untuk dijadikan rasa cemburu. Ayah sudah bertemu dengan yang dirinduinya, yang kuat disebut-sebutnya dulu dalam sembahyang dan dalam zikirnya. Aku rindu pada malam-malam yang dihidupkan ayah. Lenggok suaranya, batuk-batuk kecilnya, sedu-sedan dan sengguk tangis dalam doanya yang panjang dan sungguh-sungguh kepada Allah, semua itu dapat kuingat dengan jelas, dan sangat kuat membekas dalam hati. Ramadhan kali ini, dengan linangan air mata yang tidak mahu putus, aku teringatkan ayahku yang kuat beribadat kepada Tuhan, yang kini sudah pergi menghadap Tuhan.
No comments:
Post a Comment