Friday, August 22, 2014

Ulasan Buku: Kumpulan Puisi Negeri Kunang-kunang



Judul: Kumpulan Puisi Negeri Kunang-kunang
Pengarang: Ridzuan Harun
Penerbit: Institut Terjemahan dan Buku Malaysia Berhad
Tahun: 2013
Bilangan halaman: 76 muka surat
Harga: RM 15 

Saya mengenali Ridzuan Harun dalam program Perhimpunan Penulis Muda Nasional 2011 di Jalan Bellamy. Kami sama-sama urus setia program, tapi tidak pernah sekali berbual. Saya pendiam, dia pendiam. Maka jadilah saya mengenali dia hanya dari jauh. Tambahan, dia sudah jadi penulis bergelar dengan meramahi sosok sasterawan seperti S.M. Zakir, Rahimidin Zahari, Shamsuddin Othman malah Sasterawan Negara Datuk Dr. Anwar Ridhwan. Maka, segan saya bertambah dan tegur sapa saya dengan dia semakin berjarak.

Namun saya ada membaca sajak-sajaknya dan itu jadi satu-satunya medium perhubungan kami; pembaca – penulis. Sajak-sajaknya berbicara jauh lebih kuat daripada suara lahirnya sendiri. Dalam dua-tiga pertemuan kami dengan taman-taman penulis yang lain – di kedai rojak Jalan Bellamy, di kedai Nasi Arab selepas Kuliah Malam Sabtu dan lain-lain, Ridzuan adalah seorang pendiam – seperti saya. Dia seorang penyair sepi, tapi sajaknya tidak. Ia cukup kuat berkesan di hati. Saya pernah membaca ulasan Nazmi Yaakub tentang kumpulan puisi Negeri Kunang-kunang ini dan kurang lebih ia merumus kepada kesimpulan yang sama.

Kumpulan Puisi ini memenangi tempat pertama Sayembara Penulisan Novel, Cerpen dan Puisi anjuran ITBM. Pena dan Berita Harian. Namun, apa yang jauh lebih penting daripada status itu adalah perasaan yang mampu dibawa sajak-sajak di dalamnya itu kepada jiwa pembaca. Saya bersetuju dengan Nazmi yang paling meminati sajak "Sepi yang paling jauh" yang menjadi sajak terakhir dalam buku ini. Tetapi, saya paling tersentuh dan terasa paling dekat dengan "Halaman kampung". Keseluruhan sajak dalam buku ini saya baca di Lapangan Terbang Subang, sewaktu menunggu isteri pulang dari Pulau Pinang. Apabila tiba giliran "Halaman kampung", saya segera terhantar ke kampung saya sendiri lewat frasa-frasa seperti "masjid tua", "kolah wuduk yang sejuk dan jernih", "si tua yang selalu kau salam" dan "tanah kubur nendamu". Ia seperti mengerti sekaligus mengubati jiwa saya yang sentiasa merindui kampung halaman walau telah bertahun-tahun meninggalkannya dan tinggal di negeri orang.

Halaman Kampung
setiap waktu ketika sepi
kau sering termimpikan kampungmu yang jauh
kau sering rindukan halamannya yang bersih
pada masjid tua
pada ramah tetangga

masjid itu tidak berubah sejak kau tinggalkan
yang berubah saban waktu
hanyalah nesan-nesan yang bertambah
di perkuburan pada sisi masjid

kau teringatkan kolah tempat berwuduk
jernih, sejuk dan tenteram
si tua yang selalu kau salam
ketika pulang, tangannya sejuk
seperti air di kolah

entah kapan kembali semula nanti
akankah si tua itu masih sempat kau sapa
bersua seperti kini

inilah halaman kampung yang kau rindu
masjid tua, kolah dingin, mesra si tua
yang selalu melambaimu kembali

di sisi masjid tua, kau sering rindukan
tanah kubur nendamu yang berpulang
di sini juga, akankah tempatmu jua
bersemadi di negeri baqa

setiap waktu ketika sepi yang jauh
kau cepat-cepat terhantar
pada halaman kampung yang kau rindu.


(kredit gambar: Goodreads)

No comments: