Judul: Kumpulan Puisi Negeri Kunang-kunang
Pengarang: Ridzuan Harun
Penerbit: Institut Terjemahan dan Buku Malaysia Berhad
Tahun: 2013
Bilangan halaman: 76 muka surat
Harga: RM 15
Bilangan halaman: 76 muka surat
Harga: RM 15
Saya mengenali Ridzuan Harun
dalam program Perhimpunan Penulis Muda Nasional 2011 di Jalan Bellamy. Kami sama-sama
urus setia program, tapi tidak pernah sekali berbual. Saya pendiam, dia
pendiam. Maka jadilah saya mengenali dia hanya dari jauh. Tambahan, dia sudah
jadi penulis bergelar dengan meramahi sosok sasterawan seperti S.M. Zakir,
Rahimidin Zahari, Shamsuddin Othman malah Sasterawan Negara Datuk Dr. Anwar
Ridhwan. Maka, segan saya bertambah dan tegur sapa saya dengan dia semakin
berjarak.
Namun saya ada membaca
sajak-sajaknya dan itu jadi satu-satunya medium perhubungan kami; pembaca –
penulis. Sajak-sajaknya berbicara jauh lebih kuat daripada suara lahirnya
sendiri. Dalam dua-tiga pertemuan kami dengan taman-taman penulis yang lain –
di kedai rojak Jalan Bellamy, di kedai Nasi Arab selepas Kuliah Malam Sabtu dan
lain-lain, Ridzuan adalah seorang pendiam – seperti saya. Dia seorang penyair
sepi, tapi sajaknya tidak. Ia cukup kuat berkesan di hati. Saya pernah membaca
ulasan Nazmi Yaakub tentang kumpulan puisi Negeri Kunang-kunang ini dan kurang
lebih ia merumus kepada kesimpulan yang sama.
Kumpulan Puisi ini memenangi
tempat pertama Sayembara Penulisan Novel, Cerpen dan Puisi anjuran ITBM. Pena
dan Berita Harian. Namun, apa yang jauh lebih penting daripada status itu
adalah perasaan yang mampu dibawa sajak-sajak di dalamnya itu kepada jiwa
pembaca. Saya bersetuju dengan Nazmi yang paling meminati sajak "Sepi yang
paling jauh" yang menjadi sajak terakhir dalam buku ini. Tetapi, saya paling
tersentuh dan terasa paling dekat dengan "Halaman kampung". Keseluruhan sajak
dalam buku ini saya baca di Lapangan Terbang Subang, sewaktu menunggu isteri
pulang dari Pulau Pinang. Apabila tiba giliran "Halaman kampung", saya segera
terhantar ke kampung saya sendiri lewat frasa-frasa seperti "masjid tua", "kolah
wuduk yang sejuk dan jernih", "si tua yang selalu kau salam" dan "tanah kubur
nendamu". Ia seperti mengerti sekaligus mengubati jiwa saya yang sentiasa merindui kampung halaman
walau telah bertahun-tahun meninggalkannya dan tinggal di negeri orang.
Halaman Kampung
setiap waktu ketika sepikau sering termimpikan kampungmu yang jauhkau sering rindukan halamannya yang bersihpada masjid tuapada ramah tetanggamasjid itu tidak berubah sejak kau tinggalkanyang berubah saban waktuhanyalah nesan-nesan yang bertambahdi perkuburan pada sisi masjidkau teringatkan kolah tempat berwudukjernih, sejuk dan tenteramsi tua yang selalu kau salamketika pulang, tangannya sejukseperti air di kolahentah kapan kembali semula nantiakankah si tua itu masih sempat kau sapabersua seperti kiniinilah halaman kampung yang kau rindumasjid tua, kolah dingin, mesra si tuayang selalu melambaimu kembalidi sisi masjid tua, kau sering rindukantanah kubur nendamu yang berpulangdi sini juga, akankah tempatmu juabersemadi di negeri baqasetiap waktu ketika sepi yang jauhkau cepat-cepat terhantarpada halaman kampung yang kau rindu.
(kredit gambar: Goodreads)

No comments:
Post a Comment