Bukanlah bersedih itu satu kesalahan atau larangan, tetapi kalau kebanyakan masa dalam hidup digunakan untuk bersedih, meratap, menagih belas ihsan dan simpati orang, bila pula hendak mencerahkan diri dengan harapan yang ada di hadapan?
Saya bukan hendak mengumpat, dan rasanya syarat-syarat sah mengumpat pun tidak akan saya penuhi dalam tulisan ini cuma saya sudah agak tidak tahan (lagu latar: “tak tahan lagi...” oleh Melly Goeslaw) mendengar kisah-kisah sedih ala Bersamamu setiap pagi dan setiap petang di tempat kerja. Saya takut satu hari nanti telinga saya jadi cair akibat terlampau panas.
Kalaulah saya ada buku La Tahzan tulisan Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni, atau Being Happy tulisan Andrew Matthews mungkin sudah lama buku itu saya berikan kepada kakak seorang ini, saya sanggup beri, tapi saya tidak ada. Saya hanya ada telinga sepasang dan itulah yang saya mampu berikan kepadanya walaupun saya tahu yang dia pun ada telinga juga. Apalah yang saya mampu lakukan. Hati saya terlalu lembut untuk berkata “tidak” kepada kisah-kisah sedih yang diceritakannya. Seperti seorang murid tidak dapat menolak berlambak-lambak kerja rumah yang diberi guru, saya tidak dapat menolak daripada duduk di situ, mendengar, dan cuba mengelak daripada membuat muka bosan, dengan sedaya-upaya saya.
Barangkali kredit perasaan empati saya kepadanya sudah habis, belum sempat top-up, maka saya tidak dapat memberinya empati yang baru yang pernah saya beri dahulu. Apa yang saya takuti di kemudian hari ialah apabila empati saya sudah habis, yang menggantikannya bukan simpati, tetapi meluat dan benci.
Setiap orang ada masalah send....,
Hmm..,
Ah, sepatutnya saya berbaik sangka sahaja kepada kakak itu tanpa banyak soal!
No comments:
Post a Comment