
Pada suatu saat di mana kita berhenti
Memandang ke belakang
Dan memberi salam
(Mesra tapi sayu)
Masa lampau adalah seperti mimpi
Terlupa dan berat menarik ke belakang
Terkadang kecewa
Yang hilang, semua hilang
Seperti Usus yang lenyap kelemasan
Dan kecewa seperti Asvius yang patah hati
Kemasakan, dan juga kenaifan
Keberanian dan pengkhianatan
Apakah kita bisa bicara tentang nilai-nilai?
Sebelum dewasa?
(Catatan pada Minggu, 17 Desember 1961)
H i d u p
Terasa pendeknya hidup memandang sejarah
Tapi terasa panjangnya karena derita
Maut; tempat perhentian terakhir
Nikmat datangnya dan selalu diberi salam.
(Catatan pada Jum’at, 5 Januari 1962)
Saya sedang membaca "Catatan Seorang Demonstran" tulisan Soe Hok Gie dengan sangat lambat. Membaca ulang. Patah balik ke belakang. Terlalu banyak kata-kata berinspirasi. Cerita yang seperti puisi. Puisi yang memang puisi. Dua puisi di atas adalah di antara puisi-puisi yang ada dalam catatan beliau. Tetapi, percayalah, satu buku itu sebenarnya adalah puisi!
Kredit gambar: Jalan Sunyi Kebenaran
Friday, May 29, 2009
Sedikit Catatan Tentang "Catatan"
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment